Call for Papers: Eco City, Utopis atau Realistis?

poster its corel 10072014

Pembangunan perkotaan yang berkelanjutan bertumpu pada tiga prinsip utama sebagaimana dikemukakan oleh Serageldin, 1996 (dalam Rustiadi dkk, 2009) disebut sebagai “a triangular framework”, yakni Economic Growth, Ecology, dan Equity. Konsep keberlanjutan ini dilihat dari sejauh mana pembangunan di wilayah perkotaan dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi, menjaga keseimbangan ekologi, serta mampu mewujudkan pemerataan sosial. Perwujudan konsep keberlanjutan di kota-kota di Indonesia masih jauh dari realitas. Hal ini diakibatkan oleh dinamisnya ciri keruangan perkotaan yang berimplikasi pada permasalahan perkotaan di berbagai dimensi, yakni ekonomi, sosial, lingkungan, maupun kelembagaan untuk pengelolaan kawasan perkotaan, dan utamanya terkait permasalahan terkait ecology/lingkungan hidup. Permasalahan perkotaan pada dimensi lingkungan terlihat dari fenomena perubahan iklim dan pemanasan global, degradasi kawasan lindung, kerusakan ekosistem kawasan pesisir, serta degradasi kualitas lingkungan perkotaan. Terakhir, permasalahan kelembagaan pengelolaan kawasan perkotaan menjadi isu hangat ketika dihadapkan pada desentralisasi dan otonomi daerah yang kontraproduktif dengan diperlukannya koordinasi maupun kerjasama lintas wilayah dan lintas sektoral di sisi yang lain. Kompleksitas permasalahan perkotaan ini mendukung kondisi faktual bahwa kota-kota besar di Indonesia berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Hanya 54,26% penduduk kota-kota di Indonesia yang merasa nyaman tinggal di kotanya (IAP, 2011). Hal ini menunjukkan bahwa kota-kota tersebut masih berada dalam kondisi yang jauh dari karakteristik livable city. Karakteristik kota yang nyaman (livable city) dapat dilihat dari aspek fisik (kemampuannya menyediakan fasilitas perkotaan) maupun aspek non-fisik (kemampuannya mendukung aktivitas ekonomi, sosial, dan pelestarian lingkungan). Adanya prediksi bahwa di masa mendatang sebagian besar penduduk dunia tinggal di wilayah perkotaan, maka kota-kota kini dituntut inovasinya dalam menangani permasalahannya. Pendekatan pemecahan permasalahan perkotaan yang bersifat parsial dan sektoral merupakan dianggap kurang tepat untuk mengatasi permasalahan. Permasalahan perkotaan dari berbagai dimensi memerlukan pendekatan yang bersifat multidimensional dan multidisiplin. Oleh karena itu, merupakan tantangan yang besar bagi kota-kota di Indonesia untuk mampu mengeksplorasi ide-ide baru dalam pemecahan permasalahan perkotaannya.
Tema seminar nasional CITIES 2014 ini adalah Ecocity, Utopis atau Realistis? yang dipilih mengingat urgensinya untuk mengeksplorasi ide-ide kreatif atau inovasi dalam mewujudkan kota yang ekologis.

Sub-sub tema yang akan dibahas dalam Seminar Nasional CITIES 2014 adalah:

  1. Pesisir dan pulau-pulau kecil
  2. Kawasan Perbatasan (sub urban/ Periurban)
  3. Insfrastruktur dan Transportasi Berkelanjutan
  4. Perumahan dan Permukiman Berkelanjutan
  5. Energi Alternatif di Lingkungan Binaan
  6. Mitigasi dan Adaptasi Bencana dan Perubahan Iklim
  7. Ketahanan Energi dan Pangan
  8. Pemodelan Land Use
  9. Perencanaan Partisipasi
  10. Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan
  11. Daya Dukung Dan Daya Tampung Wilayah
  12. Urban Health
  13. Urban Farming
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s